Shiatsu merupakan teknik penyembuhan melalui pijatan yang berasal dari Jepang dan memiliki akar filosofi mendalam. Secara harfiah, kata “shiatsu” terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Jepang—”shi” berarti jari, sedangkan “atsu” berarti tekanan. Maka, shiatsu dapat diartikan sebagai “tekanan menggunakan jari”.
Berbeda dari pijat konvensional, shiatsu adalah pendekatan terapi holistik yang menyentuh aspek fisik jepang slot sekaligus energi tubuh. Prosesnya dilakukan dengan memberi tekanan di titik-titik tertentu di tubuh, menggunakan berbagai bagian tubuh seperti jari, telapak tangan, siku, lutut, hingga kaki. Tekanan yang diberikan bisa bersifat tetap, memutar, atau berupa manipulasi lembut tergantung pada kebutuhan pasien.
Keunikan lain dari shiatsu adalah pelaksanaannya yang tidak melibatkan penggunaan minyak atau lotion. Biasanya, terapi dilakukan di atas matras atau futon, dengan klien mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman. Satu sesi shiatsu rata-rata berlangsung selama 60 hingga 90 menit.
Filosofi dasar terapi ini bersumber dari prinsip Traditional Chinese Medicine (TCM), termasuk konsep meridian seperti dalam praktik akupunktur. Menurut pandangan ini, tubuh memiliki jalur energi bernama meridian, tempat mengalirnya energi vital atau “qi”. Bila aliran energi tersebut terganggu, maka keseimbangan tubuh pun bisa terganggu dan menyebabkan gangguan kesehatan. Shiatsu bertujuan untuk mengembalikan kelancaran serta keharmonisan aliran energi tersebut.
Akar dan Perjalanan Shiatsu
Walaupun identik dengan Jepang, teknik shiatsu sebenarnya merupakan hasil akulturasi antara tradisi penyembuhan lokal Jepang, teknik pijat Tiongkok kuno, dan pengetahuan medis Barat. Awalnya, teknik anma—terapi pijat dari Cina—dibawa ke Jepang sekitar abad ke-6 Masehi. Seiring waktu, anma berkembang menjadi bagian penting dalam pengobatan tradisional Jepang.
Pada awal abad ke-20, seorang terapis bernama Tokujiro Namikoshi mengembangkan pendekatan baru berbasis anma yang kemudian dinamakan shiatsu. Dengan menggabungkan pengetahuan anatomi modern dan fisiologi Barat, ia membuka klinik shiatsu pertama di Hokkaido tahun 1925 dan mendirikan Japan Shiatsu College di Tokyo pada 1940.
Popularitas shiatsu meningkat pesat pasca-Perang Dunia II. Pada tahun 1955, terapi ini diakui secara resmi oleh Kementerian Kesehatan Jepang sebagai metode pengobatan yang valid. Sejak itu, shiatsu menyebar ke berbagai penjuru dunia dan terus berkembang.
Kontribusi tokoh seperti Shizuto Masunaga juga memberi warna baru, terutama lewat Zen Shiatsu yang lebih menekankan intuisi dan relasi energi antara terapis dan pasien. Saat ini, shiatsu dikenal luas sebagai terapi komplementer yang diakui secara internasional, dengan praktik profesional yang memerlukan pelatihan dan lisensi di beberapa negara.
Baca Juga: Manfaat Tradisional Terapi Bekam di Lombok: Solusi Kesehatan Alami yang Terjaga